Jumat, 19 Februari 2010

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Iran, Tercepat di Dunia

Jumat, 19/02/2010 17:07 WIB |

Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Perusahaan itu mengamati adanya "pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya" yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan bahwa standar pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.

"Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan," kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.

Ia mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel. "Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian," tukas Archambault.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang oleh dunia diakui cemerlang dalam bidang sains .

Meski lebih dari 30 tahun diembargo Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklir, kedokteran, penelitian tentang sel dan kloning. Tanggal 2 Februari kemarin, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.

Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit.

Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran. (ln/prtv)

eramuslim.com


Seh..IRAN ajah bisa..masa Indonesia Gk bisa..

bangkit lah para pejuang garuda pancasila..

Harapan itu masih ada..hohohoho

menulis itu asyik..hohoho

Assalam..
dan pembukanya..smile for the creator of smile..hehehe..
my brother sister..apa ya yang ingin gw tulis hari ini..hmhmhmhm..padahal baru pertama kali..hehe..
menulis itu asyik dan menyenangkan..
mungkin memang sulit diawalnya tapi jika sudah dimulai terasa menyenangkan..
sekalian belajar ngetik juga..biar gk perlu liat keyboard lagi iya kagak..hohohoho..
so terus lah berkarya wahai pemuda maupun orang2 tua..hehehehe..

cintailah produk indonesia...hohoho..
karya anak bangsa..garuda pancasila..hohoho

Sabtu, 26 Desember 2009

Amerika Ramai-Ramai Berhenti Kecanduan Facebook

Baru-baru ini, Halley Lamberson, 17, dan Monica Reed, 16, juniornya di San Francisco University High School, membuat perjanjian: hanya login ke Facebook pada hari Sabtu. Selain Sabtu, mereka memasang status: "Saya tidak bisa diganggu."

"Kami menghabiskan terlalu banyak waktu, terobsesi oleh Facebook, dan akan lebih baik jika kami istirahat dari itu," kata Halley.

Facebook, situs jejaring yang populer, memiliki 350 juta anggota di seluruh dunia yang, secara kolektif menghabiskan waktu 10 miliar menit di sana setiap hari, check-in dengan teman-teman, menulis di dinding elektronik orang, mengklik foto orang lain dan itulah jalan arus dunia sosial mereka.

Di Amerika (atau mungkin juga Indonesia dan negara-negara lainnya), banyak orang yang kecanduan Facebook. Facebook tidak akan mengungkapkan berapa banyak pengguna layanan dinonaktifkan, tetapi Kimberly Young, psikolog dan direktur Center for Internet Addiction Recovery di Bradford, Pa, mengatakan ia telah berbicara dengan puluhan remaja yang kecanduan Facebook dan ingin berhenti darinya.

"Rasanya (kecanduan Facebook) seperti kecanduan lainnya," kata Dr Young. "Sulit untuk menyapih diri sendiri."

Dr Young berkata ia mengagumi remaja yang punya strategi mereka sendiri untuk menghentikan Facebook mereka. "Banyak dari mereka yang menemukan keseimbangan mereka sendiri," katanya. "Ini seperti gangguan makan. Anda tidak dapat menghilangkan makanan. Anda hanya perlu membuat pilihan yang lebih baik tentang apa yang Anda makan. Dan apa yang Anda lakukan secara online. "

Michael Diamonti, kepala sekolah di San Fransisco University High School, sedang memikirkan apa peran sekolah seharusnya, karena kebanyakan siswa menggunakan Facebook di rumah, dan penggunaan yang berlebihan sangat mempengaruhi nilai-nilai mereka.

Pada bulan Oktober 2009, anggota Facebook mencapai 54,7 persen orang di Amerika Serikat usia 12-17, naik dari 28,3 persen, menurut Nielsen Company, perusahaan riset pasar. Banyak sekolah menengah senior yang sadar bahwa dengan sangat sadar siswanya menghabiskan berjam-jam setelah untuk mengklik Facebook.

Gaby Lee, 17, seorang senior di-Royce head School di Oakland, California, telah dua minggu untuk ini dengan putus asa, menonaktifkan account Facebook-nya. Account masih ada, tapi kelihatannya bagi orang lain seolah-olah tidak. "Tidak ada yang bisa melihat dan menulis di dinding atau melihat profil saya," katanya.

Kecanduan memang tidak mati dengan mudah. Gaby berkata ketika ia duduk di komputer maka"jari-jari saya akan secara otomatis masuk ke Facebook." Dan itu sangat menyedihkan.

Dunia memang telah begitu sempit, dan anak-anak muda mematung dirinya dengan hanya jarak lima meter saja. Mereka tidak melakukan apapun. Tidak menghasilkan karya. Tidak berbaur dengan masyarakat nyata, karena sudah merasa cukup dengan jaringan sosial mereka yang ada di Facebook. Padahal itu adalah semu belaka.

Nah, Amerika saja sudah mau berhenti terhadap Facebook, bagaimana dengan kita? (sa/bbc)


Sumber :

(www.eramuslim.com)